jump to navigation

Konsistensi ‘R’ Busi? May 2, 2008

Posted by Buddy Dharmawan in Kelistrikan.
trackback

Sumber : saft7.com (dirangkum)

Produk massal, adalah produk yang memerlukan perhatian khusus terutama pada konsistensi hasil akhirnya. Contoh sederhananya gini..
Perusahaan produk Kue Kacang, dalam membuat produknya yang berjumlah besar untuk konsumsi se Indonesia (nasional), harus mempunyai proses QC yang sangat baik. Kacang yang di produksi pertama, harus punya rasa yang sama dengan kacang yang diproduksi paling akhir. Bayangkan apabila… kacang atom yang sama, rasanya lebih enak kalau kita beli di Bandung ketimbang beli di Jakarta.

Untuk busi kira-kira juga begitu.. juga untuk segala produk lain yang sifatnya MASSAL.

Bahkan hingga dibuat standard mutu untuk konsistensi produk (ISO), sehingga pabrikan yang menyandang atribut sertifikasi tersebut boleh bangga atas produknya yang dipastikan konsisten, baik mutu, umur pakai, ukuran, dsb.

Busi yang di pilih adalah busi yang premium, alias harganya jauh di atas busi standard biasa. Busi-busi ini sering dikategorikan orang sebagai ‘Busi Racing’ atau busi performance.

Nah, seberapa konsistenkah sang produsen dalam memproduksi busi mahal tersebut?
Saya coba dengan test sederhana saja, namun sedikit banyak bisa menjadi salah satu referensi konsisten atau tidaknya produk yang beredar di pasaran.

DENSO IRIDIUM IQ20

BOSCH SUPER 4 – FR78X

NGK IRIDIUM IX – BKR6 EIX

SPLITFIRE SF – 392D

BERU SILVERSTONE – S3F

NGK G-POWER PLATINUM – BKR6 EGP

NGK terlihat sangat baik dalam menjaga konsistensi pada tiap produknya… bahkan dari dua jenis NGK yang di test ternyata tetap bisa menjaga toleransi simpangan akurasi produk hingga 10% bahkan 6%, diikuti produk SplitFire. Sementara yang menyedihkan adalah produk BOSCH yang simpangannya jauh sekali hingga 75%.

Apa sih akibatnya jika saya membeli busi yang simpangan nilai resistansinya besar?
Yang pasti… makin besar nilai resistansi, akan memperkecil api yang dipercikkan busi.
Nah… jika nilai resistansi tidak rata, akibatnya… kualitas api dari busi tidak rata juga.

Bahkan jika sangat parah, akan membuat misfire, yaitu saat harusnya terjadi pengapian, busi tidak memercikkan api. Pada saat misfire, busi tidak membakar bensin untuk dirubah menjadi tenaga. Bensin terbuang percuma. ujung-ujungnya, pemborosan bahan bakar.

Paling parah lagi adalah… baru saja ganti busi.. mesin langsung pincang. Ini mungkin disebabkan salah satu busi memiliki nilai resistansi yang sangat besar dibanding yang lain.

Comments»

1. rizal - November 13, 2008

harga brapa aj bos??


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: